Dunia Enggak Terlalu Kejam, Kok. Ternyata Masih Ada Orang Baik Meskipun Berpenampilan Sangar
Jangan terbiasa untuk menilai orang cuma dari penampilan
Biarkan saya bercerita dulu..
Saya bukan tipe orang yang ahli agama, tapi rasanya sangat nyaman bertemu dengan Tuhan, jadi saya melakukan rutinitas tiap hari. Sehari lima kali dan ditambah beberapa pertemuan singkat dengan-Nya. Cukup. Saya bukan ahli agama.
Sewaktu kelas tujuh, sekitar 3 tahun yang lalu, saya shalat dhuhur dan tak ada yang aneh. Selepas shalat, saya mencari sepatu dan saya mendapati sepatu itu berada dibawah sebuah bangku dan diantara teman-teman lain yang sedang memakai sepatu. Saya bukan tipe orang yang brutal—seperti memaksa orang-orang lain melakukan sesuatu yang saya mau. Jadi saya menunggu tak jauh dari sepatu saya dan mengawasinnya. Tanpa saya sadari, sadari satu orang mengamati gerak gerik saya dan tangannya mengambil sepasang sepatu dan itu sepatu saya dan memerikannya pada saya. Dia tersenyum. Dia laki-laki dan saya juga, kebetulan, laki-laki. Jadi daripada membalasnya dengan senyuman, maka saya ucapkan terima kasih padanya.
Cerita kedua
Sebagai siswa yang baik dan cinta alamameter, saya habiskan sore saya di DBL untuk mendukung tim basket sekolah. SMAN 16 Surabaya, barangkali sampeyan ingin tahu. Sekitar jam 7 malam pertandingan berakhir dan saya langsung pulang. Sendiri. Tak ada orang di jok belakang motor.
Saya keluarkan motor saya dan melakukan hal yang seharusnya orang lakukan jika ingin mengendarai motor atau benda semacamnya, menyalakan mesin. Kunci sudah saya masukkan dan selanjutnya starter. Satu kali, tidak bisa. Dua kali, masih tidak bisa. Tiga kali, sama saja. Berulang-ulang mencobanya tapi tetap saja. Keringat mulai bercucur dan orang-orang di sekeliling melihat saya dengan heran.
Tak ada teman. Sempat terlintas di pikiran untuk mendorong motor itu hingga rumah. Tapi itu sama saja bunuh diri. Jarak rumah dan DBL lumayan jauh dan cukup membuat orang mengumpat sepanjang jalan. Tiba-tiba, ada orang yang menghampiri saya dan bertanya, “Kenapa mas?”
Dilihat dari penampilannya, dia adalah, maaf, tukang parkir. Laki-laki paruh baya, agak gendut, dan berlogat Madura.
“Ehm, Ini pak, mesinnya nggak mau nyala.”
“Oooo Bentar, saya coba dulu.” Katanya lalu men starter motor saya. Sama seperti apa yang saya lakukan. Begitu pula hasilnya. “Ini businya, mas.”
Saya masih SMA dan tak tahu apa itu busi, apa gunanya dan dimana letaknya. Atau memang hanya saya saja yang bodoh. Entahlah. Satu-satunya hal yang saya tahu tentang busi adalah bahan untuk membuat mercon di desa saya dulu. Itu saja.
“Coba masnya naik.” Katanya. “Nanti saya dorong dan sewaktu saya bilang ‘masukan’ mas masuki ke gigi satu.”
Saya masih bingung maksudnya dan apa sebenarnya yang ingin dia lakukan. “Iya, pak.” Jawab saya.
Seperti yang dia katakan. Dia mendorong saya dan dalam aba-abanya saya masukan gigi motor saya dan hasilnya nol. Mesin motor masih mati. Saya sudah pasrah tapi orang berlogat Madura itu sepertinya bukan tipe orang yang mudah menyerah. Orang-orang lain, yang barangkali juga ingin pulang, memandangi kami keheranan dan menjadikan kami tontonan yang menghibur.
“Dicoba sekali lagi mas. Kali ini langsung masukan giginya, jangan ragu ragu.”
Saya putar haluan dan pria berlogat Madura itu mendorong saya beserta motor saya. Lebih kencang dari sebelumnya.
“Sekarang!” Saya melakukan seperti yang dia minta dan Alhamdulillah mesin motor menyala dan ini berarti saya tidak jadi mendorong motor saya hingga rumah.
Dia, pria berlogat Madura, itu tersenyum sekilas dan berdiri memandangi saya. Saya mendekat dan bingung bagaimana saya harus berterima kasih. Mungkin memberikan sejumlah uang, tapi rasanya menghina. Jadi saya putuskan hanya mengucapkan, “Terima kasih, pak” dan dibalas dengan “Oh iya mas, sama-sama.” Dan saya pulang dengan mengendarai motor.
Ketiga
Sederhana saja, saya hendak shalat dan ketika mengeluarkan dompet dari saku kanan, uang saya—hanya 5000 rupiah--- jatuh. Saya tak menyadarinya. Lalu ada kakak kelas yang menepuk pundak saya dan saya tertidur. Oh, maaf. Bukan seperti itu. Saya menoleh.
“Dek, uangmu jatuh.”
“Oh, iya. Makasih mas.” Balas saya.
Tiga cerita itu hanya beberapa potongan yang masih saya ingat betul. Padahal ada yang sudah bertahun-tahun lamanya, tapi masih menempel di kepala. Tapi, seandainya saja, jika saya punya ingatan diatas rata-rata, mungkin tak cukup menuliskannya dalam satu dua kertas saja. Karena, beberapa hal baik memang berlalu begitu saja dan itu rasanya tak menjadi masalah bagi kita. Bagaimanapun juga, setiap hal, tak terkecuali sesuatu yang baik, tentu memiliki bagian yang buruk.
Entah kenapa cerita-cerita tentang kebaikan yang dilakukan orang lain pada saya sangat sulit dilupakan. Meskipun, terus terang, saya tak tahu siapa nama mereka dan alas an kenapa mereka membantu.
Hal itu membuat saya terdiam sejenak dan menyadari kalau masih ada orang baik di dunia ini, meskipun jumlah mereka sedikit. Tak peduli bagaimana bentuk kebaikan itu. Amatilah berita-berita, hampir setiap saat kita mendengar, melihat dan membaca berita mengenai sesuatu yang buruk dan dilakukan oleh orang jahat. Entah itu pemekosaan, penculikan, atau bahkan pembunuhan. Jarang sekali berita tentang hal baik yang dilakukan seseorang muncul di headline surat kabar.
Beberapa dari orang yang pernah membantu, bahkan saya tak mengenalnya. Nama, darimana dia atau bahkan berapa ukuran sepatunya. Lebih buruk lagi, saya tak tahu bagaimana kebribadiannya sehari-hari. Baik atau mungkin jahat. Tapi, jika mereka, orang-orang yang pernah berbuat baik pada saya, jahat di kesehariannya, atas dasar apa mereka membantu saya? Apa alasannya? Toh kami tak saling kenal.
Ya, dari kecil mungkin sebagian besar dari kita diajarkan untuk berbuat baik, baik dari pelajaran agama maupun nasihat orang tua. Kepada teman dekat maupun orang asing. Tapi, rasanya, aneh saja membantu orang yang tak dikenal, meskipun itu bukan hal yang salah. Malu mungkin dan kelihatannya, harus melihat dulu siapa yang kesusahan atau sedang dalam masalah. Wajah, kedudukan atau apapun itu, tentunya akan mempengaruhi rasa simpati kita. Terlebih lagi, apabila orang yang sedang dalam masalah itu pernah melakukan sesuatu yang tak enak pada kita dan itu menghasilkan kemungkinan malah kita bersyukur kalau dia terkena musibah.
Tak habis pikir dengan orang-orang baik diluar sana. Tapi, bagaimanapun juga, mereka sangat membantu. Yang disayangkan adalah jumlah mereka yang jauh dari kata banyak. Sederhana saja, kita dapat melihat dari orang orang disekitar kita atau, jika sampeyan seorang pemalas, amatilah diri sendiri. Bandingkan, lebih banyak mana, umpatan atau ucapan terima kasih, yang keluar dari mulut kita dalam sehari.
Keburukan dari orang baik adalah mereka membuat kita kesusahan untuk mengikutinya. Meniru apa yang dilakukannya. Sesuatu yang baik. Karena sesuatu yang baik memang sulit dilakukan jika mendasarkan pada keterpaksaan. Tapi, seharusnya memang perlu dipaksa.
Oh, dengan membaca tulisan ini, tanpa sampeyan sadari, sampeyan telah menjadi orang baik.